![]() |
| Ilustrasi Media Metromini / Al |
BIMA, TM – Realitas pahit dunia pendidikan kembali tersingkap di pelosok Kabupaten Bima. Delapan siswa SMP Negeri 3 Satu Atap Lambitu terpaksa mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) di sebuah saung sederhana di kebun jagung, Senin (6/4/2026).
Bukan tanpa sebab, sekolah yang berada di Desa Kaboro, Kecamatan Lambitu itu hingga kini belum memiliki akses listrik dan jaringan internet. Kondisi tersebut membuat pelaksanaan ujian di ruang kelas seperti lazimnya menjadi mustahil.
Para siswa pun harus menjalani ujian di tempat seadanya—sebuah saung yang biasa digunakan warga untuk menjemur hasil panen jagung. Dengan fasilitas terbatas, mereka tetap berusaha fokus mengerjakan soal, meski jauh dari standar kelayakan pelaksanaan ujian.
Salah satu guru, Mutmainah, mengungkapkan bahwa keterbatasan infrastruktur menjadi hambatan utama dalam proses pendidikan di sekolah tersebut.
“Tidak ada aliran listrik, jaringan internet juga tidak tersedia,” ujarnya selasa (7/4/2026) dikutip Media Metromin
Hal senada disampaikan guru lainnya, Andy Faisal. Ia menilai kondisi ini bukan hanya berdampak pada pelaksanaan ujian, tetapi juga menghambat kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
“Kami berharap pemerintah segera hadir dengan solusi nyata. Siswa sering mengeluh karena tidak adanya jaringan,” katanya.
Desa Kaboro sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah terpencil di Kecamatan Lambitu. Minimnya infrastruktur tidak hanya dirasakan oleh pihak sekolah, tetapi juga oleh masyarakat secara umum yang kesulitan mengakses informasi dan layanan digital.
Meski hanya diikuti delapan siswa, peristiwa ini mencerminkan persoalan yang jauh lebih besar: ketimpangan akses pendidikan di daerah terpencil yang masih belum teratasi.
Di tengah gencarnya program digitalisasi pendidikan di berbagai daerah, kondisi ini menjadi ironi. Ketika sebagian sekolah telah memanfaatkan teknologi canggih, di sisi lain masih ada siswa yang harus berjuang mengikuti ujian di kebun jagung.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa pemerataan pendidikan belum sepenuhnya terwujud. Diperlukan perhatian serius dan langkah konkret dari pemerintah agar tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses dasar. (Red)


