-->

Notification

×

Nelayan Tanjung Terjepit Akses Pelabuhan, Bongkar Ikan di Pelindo Kian Berat

Friday, April 3, 2026 | April 03, 2026 WIB | 2026-04-02T17:50:29Z
Ikustrasi Tambora Media / Al


KOTA BIMA, TM – Para nelayan di Kelurahan Tanjung, Kota Bima, mengeluhkan semakin sulitnya akses pendaratan dan pembongkaran hasil tangkapan, terutama saat kondisi air laut surut.


Perairan yang dangkal dan berlumpur membuat kapal-kapal nelayan tidak dapat merapat di lokasi pendaratan ikan Tanjung seperti biasanya. Akibatnya, mereka terpaksa mengalihkan aktivitas bongkar muat ke Pelabuhan Barang dan Penumpang Pelindo.


Saat air pasang, nelayan masih bisa memanfaatkan lokasi pendaratan di sisi selatan kolam retensi hingga jalur menuju TPI Tanjung. Namun ketika surut, kondisi berubah drastis dan memaksa mereka mencari jalur alternatif yang lebih dalam.


“Kalau air pasang masih bisa di tempat biasa. Tapi kalau surut, kami harus ke pelabuhan karena airnya lebih dalam,” ungkap salah satu nelayan, Kamis (2/4/2026) dilansir Media Metromini. 


Para nelayan biasanya merapat di sisi selatan pelabuhan, dekat terminal peti kemas. Aktivitas tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama, namun kini dirasakan semakin memberatkan.


Perubahan tata letak akses di area pelabuhan menjadi salah satu penyebab utama. Penutupan jalur lama dan pengalihan akses keluar-masuk ke gerbang baru membuat nelayan harus menempuh jarak lebih jauh saat mengangkut hasil tangkapan.


Tak hanya itu, minimnya fasilitas juga memperparah kondisi. Ketiadaan tangga atau pijakan pada turap pelabuhan membuat nelayan kesulitan saat turun dari kapal, terlebih dengan beban ikan yang harus dibawa.


“Sekarang makin susah. Harus jalan jauh, akses sempit, dan tidak ada tangga. Turapnya tinggi sekali,” keluhnya.


Nelayan berharap pihak Pelindo Bima dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Mereka meminta adanya fasilitas sederhana seperti tangga atau pijakan, serta kemudahan akses keluar-masuk pelabuhan.


Menurut mereka, sebagai warga yang tinggal di sekitar area pelabuhan (Ring 1), sudah seharusnya mendapat perhatian dan dukungan dalam menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.


“Kami hanya minta sedikit kemudahan. Ini soal mencari nafkah,” tambah nelayan lainnya.


Hingga saat ini, keluhan yang telah disampaikan kepada pihak Syahbandar belum mendapat tindak lanjut yang jelas. Sementara itu, pihak pengelola pelabuhan masih diupayakan konfirmasi dan belum memberikan keterangan resmi.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, para nelayan khawatir aktivitas mereka akan semakin terhambat, bahkan berpotensi mengancam keberlangsungan mata pencaharian nelayan tradisional di Kota Bima. (Red)

×