![]() |
| Para siswa yang sedang memperbaiki jalan |
Bima, TM — Bukan seragam proyek, bukan pula pekerja jalan. Mereka adalah para siswa yang sehari-hari duduk di bangku kelas. Namun pada Sabtu (26/9/2026), tangan mereka justru sibuk mengangkut pasir, batu, dan semen untuk memperbaiki jalan berlubang yang selama ini membahayakan pengguna jalan.
Siswa SMAN 2 Wera bersama guru dan staf tata usaha turun langsung memperbaiki akses jalan yang menghubungkan Desa Bala, Desa Nunggi, dan Desa Ntoke, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima.
Aksi tersebut berawal dari keresahan para siswa terhadap kondisi jalan yang mereka lalui setiap hari, baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Kondisi jalan yang rusak dan berlubang dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Alih-alih hanya mengeluhkan kondisi tersebut, para siswa memilih mengambil langkah nyata. Mereka berinisiatif mencari material perbaikan dan membangun komunikasi dengan sejumlah pihak yang dapat membantu, termasuk Kepala Desa Nunggi.
Setelah material tersedia, siswa bersama guru dan staf TU kemudian bergotong royong melakukan perbaikan pada sejumlah titik jalan yang mengalami kerusakan.
Bagi para siswa, kegiatan tersebut bukan sekadar memperbaiki jalan. Mereka belajar langsung bagaimana mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitar, mencari solusi, membangun komunikasi, bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap kepentingan masyarakat.
Kegiatan itu juga menjadi bagian dari penerapan Project-Based Learning (PjBL) dengan pendekatan Deep Learning. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di tengah lingkungan masyarakat.
Jalan yang biasanya hanya menjadi jalur perjalanan menuju sekolah, pada hari itu berubah menjadi ruang belajar terbuka bagi para siswa.
Melalui kegiatan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dengan menyampaikan keluhan. Persoalan di sekitar juga membutuhkan keberanian untuk mengambil inisiatif dan bekerja bersama mencari jalan keluar.
Inisiatif SMAN 2 Wera tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dapat membentuk siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepedulian sosial, semangat gotong royong, dan keberanian untuk berkontribusi bagi lingkungan.
Bagi warga yang melintas, pesan dari aksi para pelajar itu sederhana: ketika ada sesuatu yang bisa diperbaiki, jangan hanya mengeluh—mulailah bergerak. (Red)


