![]() |
| Bakal Calon ketua PGRI Kabupaten Bima, Dr. Juwaidin. |
KOTA, TM – Pernyataan tegas dan penuh tekanan datang dari pemerhati daerah, Ndai Ruma Rengge Sape, terkait arah kepemimpinan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bima ke depan. Ia menilai, organisasi profesi guru tersebut tengah berada di titik krusial yang menentukan masa depan perjuangan para pendidik.
Menurutnya, kondisi PGRI saat ini dinilai tidak dalam keadaan baik. Ia menyebut arah perjuangan organisasi mulai kabur, keberpihakan terhadap guru melemah, dan keberanian dalam menyuarakan ketidakadilan semakin memudar.
“Cukup sudah PGRI berjalan tanpa arah. Jangan lagi dipimpin oleh sosok yang hanya diam ketika guru tertekan,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Ndai Ruma Rengge Sape secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Doktor Juwaidin, M.Pd sebagai figur yang dinilai mampu membawa perubahan. Ia menyebut Juwaidin sebagai sosok yang memiliki ketegasan, keberanian, serta integritas dalam memperjuangkan kepentingan guru.
“Ini bukan soal kedekatan atau kepentingan kelompok. Ini soal siapa yang berani berdiri di garis depan membela guru. Saya melihat itu ada pada Doktor Juwaidin—tegas, jujur, dan tidak mudah dipengaruhi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pihak-pihak yang dinilai selama ini hanya menikmati posisi tanpa memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan guru. Menurutnya, PGRI seharusnya menjadi ruang perjuangan, bukan sekadar tempat mencari kenyamanan.
“Jangan pilih pemimpin yang hadir saat butuh suara, lalu hilang saat guru membutuhkan pembelaan. PGRI adalah tempat berjuang,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa momentum pemilihan Ketua PGRI mendatang merupakan pertaruhan besar bagi masa depan organisasi. Ia mengingatkan agar seluruh elemen tidak salah dalam menentukan pilihan.
“Kalau kita masih salah memilih, jangan heran jika PGRI semakin kehilangan wibawa. Tapi jika kita berani, perubahan itu bukan hal yang mustahil,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh anggota PGRI untuk bersikap tegas dan tidak ragu dalam menentukan arah dukungan.
“Tidak ada ruang untuk setengah hati. Jika ingin PGRI bangkit, maka pilihan harus jelas,” pungkasnya. (Red)


