![]() |
| Tambora Media / AI |
BIMA, TM – Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, suara para petani dari pelosok daerah masih menyimpan cerita tentang perjuangan mempertahankan kehidupan.
Suara itu datang dari para petani Desa Tanah Putih, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka tidak turun ke jalan, tidak membawa spanduk, dan tidak melakukan aksi protes. Mereka memilih cara sederhana namun sarat harapan, yakni menulis surat kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Surat tersebut menjadi ungkapan hati para petani yang berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki tanggul dan saluran irigasi yang rusak akibat diterjang banjir.
Bagi masyarakat Tanah Putih, keberadaan irigasi bukan sekadar infrastruktur. Saluran air merupakan urat nadi kehidupan para petani. Sebelum kerusakan terjadi, air dapat mengalir dengan baik ke lahan pertanian. Sawah pun menghijau dan petani mampu melakukan panen padi hingga tiga kali dalam setahun.
Namun kondisi itu kini berubah. Aliran air ke sejumlah lahan pertanian terputus sehingga produktivitas petani menurun drastis. Dari sebelumnya mampu panen hingga tiga kali setahun, kini sebagian petani hanya dapat mengandalkan satu kali musim panen.
Sekitar 20 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut disebut terancam akibat kerusakan tanggul dan saluran irigasi. Bahkan, sebagian lahan telah mengalami gagal panen.
Bagi petani, persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan fisik bangunan. Tanggul yang rusak berarti terputusnya sumber pengairan, hilangnya penghasilan, meningkatnya beban ekonomi keluarga, hingga terganggunya biaya pendidikan anak-anak mereka.
Di tengah keterbatasan, warga tidak tinggal diam. Dengan semangat gotong royong, masyarakat berupaya membuat saluran air darurat secara swadaya agar sebagian lahan tetap dapat dialiri.
Namun upaya tersebut dinilai belum mampu menjadi solusi permanen. Masyarakat menyadari bahwa pembangunan kembali tanggul dan jaringan irigasi membutuhkan dukungan pemerintah melalui penanganan yang lebih terencana dan berkelanjutan.
“Kami tidak meminta yang muluk-muluk, Pak Presiden dan Pak Wapres. Kami hanya ingin tanggul dan saluran irigasi kami diperbaiki agar air kembali mengaliri sawah kami seperti dulu. Itulah sumber kehidupan kami,” tutur Lukman, salah seorang warga Desa Tanah Putih.
Surat yang disampaikan para petani tersebut bukan semata-mata bentuk keluhan, melainkan sebuah harapan agar pemerintah melihat secara langsung kondisi yang mereka hadapi.
Para petani ingin agar persoalan irigasi di Tanah Putih mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Mereka berharap Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi NTB, hingga Pemerintah Kabupaten Bima dapat segera melakukan peninjauan lapangan dan mengambil langkah nyata untuk membangun kembali tanggul serta saluran irigasi secara permanen.
Kerusakan irigasi yang berlangsung terlalu lama dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga terhadap keberlangsungan ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan di tingkat desa.
Bagi petani Tanah Putih, air adalah kehidupan. Ketika air kembali mengalir, sawah akan kembali menghijau, padi kembali tumbuh, dan harapan para petani untuk menjaga kehidupan keluarganya pun kembali tumbuh.
Kini, dari sebuah desa di Kecamatan Sape, sebuah pesan sederhana ditujukan kepada pemimpin negeri.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin air kembali mengalir ke sawah mereka. (Red)


