![]() |
| Indra Ardiansyah, siswa kelas VII SMP Negeri 3 Wera, |
BIMA, TM – Di balik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus digencarkan, terselip kisah menggetarkan dari pelosok Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Seorang siswa SMP rela menempuh perjalanan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari, bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga demi membawa pulang makanan bagi adik-adiknya.
Indra Ardiansyah, siswa kelas VII SMP Negeri 3 Wera, Desa Rangga Solo, Dusun Suka Maju, menjadi potret nyata perjuangan anak di tengah keterbatasan ekonomi. Setiap pagi, ia berjalan kaki menuju sekolah tanpa kendaraan, menempuh jarak yang tidak sedikit bagi anak seusianya.
Namun, yang membuat kisahnya menyentuh banyak hati adalah alasan di balik kebiasaannya membungkus makanan dari program MBG. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dibawa pulang kepada empat adiknya yang menunggu di rumah.
Kisah ini terungkap setelah guru-guru mulai memperhatikan kebiasaan Indra yang kerap meminta izin membawa pulang makanan. Awalnya, mereka mengira itu untuk kebutuhan pribadinya. Namun, jawaban Indra membuat suasana berubah haru.
“Selalu dibungkus, saya tanya ternyata untuk adik-adiknya di rumah,” ungkap Sri Nurhayati, guru sekaligus Koordinator MBG di sekolah tersebut, Kamis (7/5/2026).
Di tengah keterbatasan, Indra tetap dikenal sebagai siswa yang rajin dan disiplin. Ia nyaris tidak pernah absen, meski harus berjalan kaki setiap hari tanpa fasilitas yang memadai.
Kondisi keluarganya pun tidak mudah. Ia tinggal bersama kakek, bibi, dan empat adiknya, sementara kedua orang tuanya merantau ke Dompu demi mencari nafkah. Dalam situasi itu, makanan dari program MBG menjadi sumber harapan bagi keluarganya.
“Dia tetap sekolah walaupun tidak punya kendaraan. Anak ini sangat rajin,” tambah Sri.
Kepedulian juga datang dari teman-temannya. Setelah mengetahui kondisi Indra, beberapa siswa dengan sukarela memberikan jatah makanan mereka.
“Teman-temannya ada yang tidak makan dan memberikan ke Indra,” tutur Sri dengan suara lirih.
Kisah Indra bukan sekadar cerita haru, tetapi juga cermin realitas yang masih dihadapi sebagian masyarakat di daerah. Di usia yang masih belia, ia sudah memikul tanggung jawab besar sebagai kakak, memastikan adik-adiknya tetap bisa makan.
Perjalanan tiga kilometer yang ia tempuh setiap hari kini menjadi simbol keteguhan dan pengorbanan. Langkah kecilnya mengingatkan banyak pihak bahwa di balik setiap program bantuan, masih ada cerita-cerita sunyi yang perlu lebih diperhatikan.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah dan pemangku kebijakan agar program sosial benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan, bukan sekadar menjadi formalitas.
Di balik seragam sederhana dan langkah kaki yang tak pernah lelah, Indra Ardiansyah menunjukkan arti tanggung jawab, kasih sayang, dan keteguhan nilai-nilai besar yang lahir dari keterbatasan.
Langkah sunyi Indra adalah suara lantang tentang harapan. Bahwa di pelosok negeri, masih ada anak-anak yang berjuang dalam diam menjadi kuat, bahkan sebelum waktunya. (Red)


