![]() |
| Tambora Media / AI |
FLORES, TM — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Peristiwa tersebut kembali mengingatkan masyarakat pada gempa dahsyat yang pernah melanda Flores pada Sabtu, 12 Desember 1992, atau sekitar 34 tahun silam.
Kesamaan hari terjadinya kedua gempa tersebut menjadi perhatian tersendiri. Selain sama-sama terjadi pada hari Sabtu, kedua peristiwa juga berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores, salah satu zona aktif yang membentang di wilayah utara Flores.
Dari sisi kekuatan, gempa 15 Agustus 2026 yang mencapai sekitar M7,7 juga berada pada kisaran yang hampir sama dengan gempa Flores 1992 yang tercatat sekitar M7,7–M7,8. Kedua gempa berpusat di kawasan perairan utara Flores dan sama-sama memiliki potensi menimbulkan dampak besar di wilayah pesisir.
Mengingat Kembali Tragedi Flores 1992
Gempa Flores pada 12 Desember 1992 menjadi salah satu bencana gempa-tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia.
Guncangan dahsyat kala itu memicu tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir Flores. Maumere menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan parah. Pulau Babi juga luluh lantak diterjang gelombang tsunami.
Ribuan orang meninggal dunia maupun dinyatakan hilang akibat rangkaian bencana tersebut. Tragedi itu kemudian menjadi salah satu catatan penting mengenai besarnya risiko gempa dan tsunami di kawasan Flores dan sekitarnya.
Peringatan Tsunami Kembali Dikeluarkan
Pada gempa Sabtu (15/8/2026), pihak berwenang kembali mengeluarkan peringatan dini tsunami sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gelombang laut akibat gempa kuat tersebut.
Masyarakat yang berada di kawasan pesisir utara Flores dan wilayah lain yang berpotensi terdampak diimbau tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta menjauhi pantai apabila mendapatkan arahan evakuasi dan mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang.
Kesamaan antara gempa 1992 dan 2026 menjadi pengingat bahwa wilayah Flores berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Kewaspadaan, kesiapsiagaan, serta pemahaman terhadap jalur evakuasi menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi bencana gempa dan tsunami. (Red)
Sumber: Sumba TV


