![]() |
| Proses seleksi di Voli Ball PA tingkat SMA se Kota Bima |
KOTA BIMA, TM — Proses penjaringan atlet bola voli pelajar Kota Bima untuk dipersiapkan mengikuti ajang olahraga tingkat provinsi mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Mereka memanfaatkan keterbukaan mekanisme seleksi serta keterlibatan pembina dari sejumlah sekolah dalam proses penjaringan tersebut.
Sorotan muncul karena hasil seleksi yang dinilai mendominasi atlet dari beberapa sekolah, di antaranya SMA Negeri 4 Kota Bima, SMA Negeri 2 Kota Bima dan MAN 1 Kota Bima. Pihak yang mempersoalkan proses tersebut meminta Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PPVSI) Kota Bima menjelaskan secara terbuka mekanisme, kriteria penilaian, serta siapa saja yang terlibat sebagai tim seleksi.
Salah satu pihak yang mempersoalkan proses tersebut menilai seleksi seharusnya melibatkan pembina bola voli dari berbagai sekolah sehingga seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama.
“Seleksi anak-anak pelajar kemarin hanya sebuah formalitas.Diduga didominasi oleh SMA 4 karena yang melakukan seleksi adalah pembina dari SMA 4, tanpa melibatkan pembina dari seluruh sekolah,” demikian keluhan yang disampaikan.
Selain itu, muncul pula tudingan mengenai adanya kedekatan antara salah satu pembina yang terlibat dalam proses seleksi dengan Ketua PPVSI Kota Bima. Namun, tudingan tersebut belum terverifikasi dan masih memerlukan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Mennanggapi sorotan tersebut, Sekretaris PPVSI Kota Bima, Hersan, menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan berdasarkan kemampuan dan kualitas atlet, bukan karena hubungan keluarga, asal sekolah maupun rekomendasi pribadi.
![]() |
| Proses seleksi Atlit Voli Ball PI, SMA se kota Bima |
Menurut Hersan, kegiatan tersebut sebenarnya merupakan program Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB. PPVSI Kota Bima mendapat mandat untuk membantu menyediakan atlet dan pelatih yang akan dipersiapkan dalam kegiatan tersebut.
“PPVSI diminta membantu mencari atlet atau siswa terbaik. Karena itu kami mengundang sekolah-sekolah untuk mengirimkan siswa terbaiknya mengikuti seleksi,” jelas Hersan melalui Whatsapp Sabtu (12/9/2026).
Dikatakannya, proses penjaringan dilakukan dengan melibatkan sejumlah pelatih, guru dan pembina olahraga dari beberapa sekolah serta unsur PPVSI. Tim seleksi juga turun langsung menggabungkan kemampuan peserta.
"Kami tidak ingin asal comot pemain. Yang dicari adalah pemain yang memang berkualitas dan bisa diandalkan untuk membawa nama Bima," ujarnya.
Hersan bahkan memberikan contoh bahwa proses seleksi tidak didasarkan pada hubungan keluarga. Ia mengaku memiliki tiga keponakan yang mengikuti seleksi tahap awal, tetapi tidak satu pun dinyatakan lolos.
“Saya punya tiga keponakan yang ikut seleksi pertama, tapi tidak ada satu pun yang lolos. Ada yang dari SMA 4 dan SMA 2. Jadi tidak ada istilah karena keluarga atau siapa yang kemudian dimasukkan,” tegasnya.
Dalam penjaringan tersebut, sekitar 70 pelajar mengikuti proses seleksi. Untuk tim putri, peserta yang mengikuti seleksi berada di kisaran 20 hingga 30 orang. Seleksi tim putra juga dilakukan dengan melibatkan tim pelatih dan guru.
HeIrsan mengakui terdapat sejumlah sekolah yang cukup dominan dalam hasil seleksi. Namun menurutnya, hal itu bukan disebabkan keberpihakan, melainkan karena pelatihan bola di sekolah-sekolah tersebut berjalan secara rutin.
“Memang ada beberapa sekolah yang dominan, seperti MAN 1, SMA 4 dan SMA 2. Karena memang pelatihannya di sekolah berjalan rutin. Mereka juga pernah tampil dalam turnamen yang khusus diperuntukkan bagi pelajar SMA dan pemain-pemainnya memang bagus,” katanya.
Dari proses seleksi sementara tersebut, sebanyak 14 atlet telah terpilih. Namun Irsan menegaskan jumlah dan komposisi tersebut belum menjadi keputusan final.
"14 ini belum menjadi patokan mati. Masih ada proses berikutnya. Kalau nanti ada yang cedera, sakit atau gagal, ada pemain cadangan yang bisa menggantikannya," jelasnya.
Hasil seleksi selanjutnya masih akan dikomunikasikan dengan pihak provinsi. Sebab, kegiatan tersebut merupakan program pemerintah provinsi, sementara PPVSI Kota Bima menyelenggarakan amanah untuk membantu proses penjaringan atlet dan pelatih.
"Belum final sepenuhnya. Kami masih akan berdiskusi lagi dengan pihak provinsi. Karena mereka punya kegiatan, kami di sini menjalankan mandat untuk menyeleksi dan menyediakan atlet serta pelatih," katanya.
Hirsan juga mempersilakan masyarakat maupun pihak yang mengeluarkan proses seleksi untuk berkomunikasi langsung dengan PPVSI Kota Bima dan melihat proses latihan para atlet.
“Kalau ada yang berminat atau ingin mengetahui prosesnya, bisa menghubungi PPVSI atau datang langsung ke tempat pelatihan. Apa keluhannya bisa kita jawab. Bisa dilihat langsung di sekolah atau tempat latihan bagaimana kualitas pemain yang kami siapkan,” ujarnya.
Menurut Hersan, proses penjaringan tersebut juga merupakan bagian dari persiapan jangka panjang menghadapi Porprov NTB 2029. Pembinaan atlet sejak usia pelajar dinilai penting agar Kota Bima memiliki stok atlet yang siap bersaing pada ajang olahraga mendatang.
“Kalau tidak ada persiapan seperti ini, apa yang mau kita andalkan nanti untuk Porprov selanjutnya. Makanya ini bagian dari persiapan Kota Bima ke depan,” tutupnya.
PPVSI Kota Bima menegaskan proses seleksi akan diarahkan pada prinsip objektivitas, kualitas dan kebutuhan tim. Hasil sementara masih akan dikoordinasikan dengan pihak provinsi sebelum ditetapkan menjadi komposisi final.
Sementara itu, sorotan terkait transparansi proses seleksi masih menjadi perhatian publik. Penjelasan lebih lanjut mengenai susunan tim seleksi, kriteria penilaian dan mekanisme penetapan atlet yang diharapkan dapat diberikan secara terbuka untuk memastikan proses penjaringan berlangsung tujuan dan memberikan kesempatan yang setara bagi pelajar dari berbagai sekolah. ( Red )



