![]() |
| Beberapa titik jalan Provinsi NTB yang rusak di Wilayah Kabupaten Bima, ditanami Pohon Pisang Oleh Warga |
BIMA, TM — Aksi kreatif sekaligus sarat kritik kembali menggema di Kabupaten Bima. Sejumlah kreator lokal melakukan penanaman pohon pisang di sepanjang ruas jalan rusak lintas Ambalawi–Wera, yang merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (25/3/2026).
Gerakan yang mereka sebut sebagai “program sejuta pohon pisang di jalan rusak” ini melibatkan berbagai kreator seperti Sarifah Hurt, Gerry Setiawan, Dae Ndai, BabaRao, Muhram M, Zheggo Bip, Bajak Laut, dan lainnya. Dengan pendekatan satire, aksi ini menjadi simbol kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur yang tak kunjung mendapat penanganan serius.
Pohon-pohon pisang ditanam tepat di lubang-lubang jalan yang menganga, seolah mengubah ruas jalan vital menjadi “kebun pisang dadakan”. Aksi tersebut sontak menarik perhatian publik, baik di lapangan maupun di media sosial.
“Kalau jalan rusak terus dibiarkan, lebih baik kita tanami saja. Biar ada manfaatnya,” ujar salah satu peserta aksi dengan nada menyindir.
Tak hanya berhenti di lokasi, para kreator juga mengajak masyarakat di berbagai wilayah NTB untuk melakukan aksi serupa sebagai bentuk protes damai namun kreatif. Tagar #Jalan_rusak_mendunia dan #NTB_mendunia pun ramai digaungkan di media sosial, memperluas gaung kritik tersebut.
Di sisi lain, muncul polemik setelah adanya pernyataan dari pihak tertentu yang menyebut masyarakat pengkritik kondisi jalan sebagai “sok hebat”. Pernyataan ini justru memicu reaksi keras dari warganet yang menilai kritik adalah hak masyarakat.
“Kalau kritik dianggap sok hebat, lalu bagaimana masyarakat menyampaikan keluhan?” tulis seorang netizen.
Menanggapi fenomena ini, tokoh NTB, Badrun Munir, menilai aksi tanam pisang bukan sekadar sensasi, melainkan bentuk nyata kekecewaan publik.
“Ini bukan aksi lucu semata. Ini jeritan masyarakat yang sudah terlalu lama menunggu. Jalan adalah kebutuhan dasar, bukan janji yang terus diulang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perlunya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam menangani persoalan infrastruktur, termasuk menyusun strategi pembiayaan yang realistis dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Ruas jalan Ambalawi–Wera, termasuk wilayah Woha, Monta, Langgudu hingga Wera, selama ini dikenal sebagai jalur vital penghubung antarwilayah. Namun, kondisinya yang rusak parah kerap dikeluhkan karena membahayakan pengguna jalan serta menghambat aktivitas ekonomi warga.
Masyarakat pun berharap Pemerintah Provinsi NTB segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki jalan tersebut, bukan sekadar wacana.
Aksi tanam pisang ini menjadi pesan tegas: ketika jalan dibiarkan rusak, kritik akan terus tumbuh—bahkan dari lubang-lubang yang terabaikan. (Red)


