-->

Notification

×

Garam Merah Putih Bima Resmi Diluncurkan, Washing Plant Donggobolo Dorong Garam Rakyat Naik Kelas

Wednesday, October 7, 2026 | October 07, 2026 WIB | 2026-10-07T00:59:41Z

Pemerintah Kabupaten Bima resmi meluncurkan merek produk olahan “Garam Merah Putih Bima” 

Bima, TM — Pemerintah Kabupaten Bima resmi meluncurkan merek produk olahan “Garam Merah Putih Bima” sekaligus meresmikan Washing Plant bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI di Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Selasa (6/10/2026).


Peresmian tersebut menjadi langkah strategis Pemkab Bima dalam meningkatkan kualitas, nilai tambah, serta daya saing garam produksi masyarakat. Kehadiran fasilitas pengolahan ini diharapkan mampu mendorong garam rakyat Bima tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi berkembang menjadi produk industri bernilai ekonomi tinggi.


Washing Plant tersebut dilengkapi fasilitas pengolahan terintegrasi yang berfungsi memurnikan garam melalui proses pencucian hingga iodisasi untuk menekan kadar pengotor. Dengan dukungan teknologi tersebut, mutu garam rakyat ditingkatkan agar memenuhi standar industri dan Standar Nasional Indonesia (SNI).


Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita di halaman pabrik oleh Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan Zubaidy, bersama Kepala Balai Besar Garam KKP RI, Dr. Muh. Zaki Mahasin, S.Pi., M.Si.


Dalam sambutannya, Wabup Irfan menegaskan pentingnya mengubah bahan baku garam menjadi produk industri agar memberikan nilai jual yang lebih tinggi bagi masyarakat.


“Kalau kita mau harga garam bagus, kita harus meng-upgrade garam menjadi garam industri. Bisa untuk kebutuhan pertambangan, kosmetik, hingga makanan dan minuman. Ruangnya sangat luas,” ujar Irfan.


Menurutnya, peningkatan kualitas dan pengolahan garam merupakan bagian penting dalam memperkuat posisi petambak garam lokal. Pemkab Bima juga berkomitmen mengawal penyerapan produksi garam masyarakat dengan harga yang layak.


Langkah tersebut, kata Irfan, bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petambak, tetapi juga berpotensi memperkuat perekonomian daerah melalui peningkatan aktivitas industri dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).


Sementara itu, Kepala Balai Besar Garam KKP RI, Muh. Zaki Mahasin, menyebut keberadaan washing plant sebagai fondasi awal untuk membangun industri garam yang lebih kuat di Kabupaten Bima.


KKP, lanjutnya, siap memberikan pendampingan teknis dan manajerial kepada sumber daya manusia lokal. Selain itu, KKP mendorong terbentuknya kemitraan strategis dengan BUMD, pihak swasta maupun koperasi agar produk garam Bima mampu memperluas pasar hingga ke Pulau Jawa dan Sulawesi.


Dukungan terhadap pengembangan industri garam lokal juga disampaikan Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Garam Indonesia (GGTI) Nangatolosia, Khalil Alfalah.


Ia menyatakan komitmennya untuk mendorong agar garam produksi masyarakat terlebih dahulu diolah di daerah sebelum dikirim ke luar Bima. Dengan demikian, nilai ekonomi yang dihasilkan dari komoditas tersebut dapat lebih banyak dirasakan oleh masyarakat lokal.


Terlebih, produk olahan “Garam Merah Putih Bima” disebut telah mengantongi izin edar dan rekomendasi resmi dari BPOM. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pemasaran produk hingga tingkat nasional sekaligus membuka peluang menembus pasar ekspor.


Setelah prosesi peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan langsung berbagai fasilitas pengolahan yang berada di dalam pabrik.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran KKP RI, Bappeda NTB, sejumlah OPD Pemkab Bima, anggota DPRD NTB, jajaran direksi PT GMC, pengurus koperasi, tokoh masyarakat, serta para petambak garam setempat.


Kehadiran Garam Merah Putih Bima dan Washing Plant Donggobolo diharapkan menjadi titik awal transformasi industri garam di Kabupaten Bima—dari sekadar komoditas mentah menjadi produk olahan berkualitas yang mampu bersaing di pasar nasional dan membuka peluang pasar ekspor. (Red) 

×