-->

Notification

×

Diduga Dapat Perlakuan Istimewa, Terduga Bandar Sabu di Bima Picu Sorotan Publik

Wednesday, June 10, 2026 | June 10, 2026 WIB | 2026-06-10T11:17:15Z
Terduga pelaku tampak santai mengenakan sarung khas daerah (Tembe Nggoli), bahkan tangannya terlihat tidak diborgol.

 

BIMA, TM – Jagat media sosial, khususnya Facebook, dihebohkan dengan sorotan tajam warganet terhadap kinerja Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Bima Kabupaten, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pihak kepolisian dituding memberikan perlakuan istimewa kepada seorang terduga bandar narkotika jenis sabu-sabu.


Tudingan tersebut mencuat setelah beredarnya sejumlah foto di media sosial yang memperlihatkan terduga pelaku saat sesi rilis atau dokumentasi bersama barang bukti. Dalam foto itu, pelaku tampak santai mengenakan sarung khas daerah (Tembe Nggoli), bahkan tangannya terlihat tidak diborgol.


Kondisi tersebut langsung menuai kritik dari warganet. Mereka menilai adanya kesan perlakuan eksklusif terhadap pelaku, yang dinilai dapat melemahkan efek jera serta memicu ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum.


Salah satu kritik datang dari Buyung Nasution, warga Kecamatan Bolo. Ia menyesalkan sikap Aparat Penegak Hukum (APH) di Polres Bima Kabupaten yang dinilai tidak tegas dan terkesan tebang pilih dalam menangani kasus narkoba.


“Pelaku kejahatan sekelas bandar narkoba tidak pantas dibiarkan menggunakan sarung saat jumpa pers, apalagi tanpa borgol. Ini mencederai rasa keadilan,” ujarnya, Rabu (10/6/2026) dilansir Sangiangpoost.id


Buyung menambahkan, perlakuan tersebut dapat merusak marwah institusi kepolisian. Menurutnya, hukum harus ditegakkan secara adil tanpa pengecualian.


“Jargon perang terhadap narkoba seolah hanya slogan. Faktanya, di lapangan justru terlihat adanya perlakuan yang berbeda,” kritiknya.


Nada serupa juga disampaikan Muhammad, warga Kecamatan Bolo lainnya. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai preseden buruk dalam penegakan hukum.


“Publik bisa melihat sendiri bagaimana seorang terduga bandar diperlakukan. Ini bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian,” tegasnya.


Hingga berita ini diterbitkan, pihak Polres Bima Kabupaten belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut. Kapolres Bima Kabupaten melalui Kasi Humas, AKP Adib Widayaka, belum merespons konfirmasi awak media melalui pesan WhatsApp, meskipun pesan diketahui telah dibaca.


Kasus ini pun terus menjadi perbincangan hangat di media sosial dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak kepolisian guna menjawab keresahan publik. (Red

×