![]() |
| Anggota DPRD NTB, M. Aminurlah, menyerah bantuan pada 3 Korban yang rumahnya dibawa Banjir bulan Desember 2025 lalu di Kelurahan Lampe |
KOTA BIMA, TM – Nasib tiga kepala keluarga (KK) di RT 06/02, Kelurahan Lampe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima, hingga kini masih memprihatinkan. Empat bulan pascabencana yang merenggut rumah mereka, belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah.
Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung dari Anggota DPRD NTB, M. Aminurlah yang akrab disapa Aji Maman (PAN). Dalam kunjungan “On The Spot” pada Sabtu (28/3/2026) pagi, ia menyaksikan langsung situasi warga yang masih berjuang tanpa hunian tetap.
Tiga KK yang terdampak diketahui kehilangan rumah di atas lahan bersertifikat milik Irwan, Burhan, dan Hendon. Meski memiliki legalitas lahan yang jelas, hingga kini belum ada kejelasan terkait relokasi maupun bantuan pembangunan kembali.
Tokoh masyarakat setempat, Ama Rizal, mengungkapkan bahwa bantuan yang diterima warga hanya bersifat sementara di awal kejadian.
“Pernah ada bantuan, hanya mie instan dan terpal saja. Ada dari Dinsos dan Baznas, mungkin lewat koordinasi lurah,” ujarnya.
Namun setelah itu, lanjutnya, tidak ada lagi perhatian lanjutan dari pemerintah. Warga pun terpaksa bertahan dalam kondisi serba terbatas dan menumpang di rumah keluarga.
Kehilangan Rumah, Kehilangan Harapan
Bencana yang melanda Lampe tidak hanya menghancurkan tempat tinggal, tetapi juga memutus sumber penghidupan warga. Ironisnya, kondisi ini justru berpotensi memperparah angka kemiskinan ekstrem di daerah.
Selain itu, persoalan lingkungan juga memperburuk keadaan. Sungai di wilayah Lampe disebut semakin melebar akibat tidak adanya penanganan yang optimal, sehingga menggerus lahan pertanian warga.
“Lihat saja, sungai makin melebar setiap musim hujan. Bahkan lebarnya hampir lebih dari 50 meter. Ini harus jadi perhatian serius,” sorot Aji Maman.
DPRD NTB Desak Solusi Nyata
Aji Maman menegaskan, pemerintah tidak boleh hanya memberikan bantuan darurat sesaat tanpa solusi jangka panjang. Ia mendesak agar segera ada langkah konkret, mulai dari penyediaan hunian layak hingga pemulihan ekonomi warga terdampak.
“Ini sudah empat bulan. Seharusnya ada penanganan menyeluruh, bukan hanya bantuan simbolis,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, ia juga menyerahkan bantuan sembako kepada warga sebagai bentuk kepedulian awal. Namun menurutnya, itu bukan solusi utama.
“Ketika warga kehilangan rumah, pemerintah harus hadir dengan solusi nyata. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya rumah yang hilang, tetapi juga masa depan mereka,” tutupnya.
Kasus ini menjadi cerminan bahwa penanganan bencana di daerah masih membutuhkan perhatian serius dan langkah cepat dari pemerintah, agar tidak ada lagi warga yang terabaikan dalam kondisi darurat berkepanjangan. (Red)


