![]() |
| Kondisi rumah warga di keluhan Lampe saat ini yang dibawa banjir bulan Desember 2026 |
KOTA BIMA, TM — Tiga bulan pascabencana banjir yang melanda Kelurahan Lampe, Kecamatan Rasanae Timur, warga mulai kehilangan kesabaran. Mereka menagih janji Pemerintah Kota Bima yang dinilai belum menunjukkan langkah nyata dalam penanganan korban.
Sejumlah warga terdampak mengaku hingga kini masih hidup dalam kondisi serba terbatas, bahkan sebagian belum memiliki hunian yang layak. Bantuan yang sebelumnya dijanjikan saat masa tanggap darurat disebut belum terealisasi secara jelas.
“Waktu banjir datang, banyak janji. Tapi sekarang kami seperti dilupakan. Jangan cuma kasih terpal saja,” ujar salah satu warga dikutip Media Metromini, Kamis (26/3/2026).
Banjir besar yang terjadi pada akhir Desember 2025 lalu menyebabkan kerusakan parah di wilayah tersebut. Sejumlah rumah hancur, sementara kawasan permukiman berubah menjadi hamparan batu dan puing.
Namun hingga kini, warga menilai belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk pemulihan pascabencana. Mereka berharap Pemkot Bima tidak hanya hadir secara simbolis saat bencana terjadi, tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan.
Warga mendesak adanya bantuan pembangunan rumah serta program penanganan jangka panjang guna mencegah bencana serupa terulang.
“Datang dan lihat sendiri kondisi kami sekarang. Jangan tunggu viral baru bergerak,” tegas warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, sikap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima, Faruk, turut menjadi sorotan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan respons hingga berita ini diterbitkan.
Tidak adanya tanggapan dari pihak BPBD semakin memicu kekecewaan warga. Mereka menilai instansi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana justru terkesan menghindar dari tanggung jawab.
“Kalau ditanya saja tidak dijawab, bagaimana nasib kami ke depan?” keluh warga.
Hingga saat ini, warga Lampe berharap Pemerintah Kota Bima segera turun langsung ke lokasi dan memberikan kepastian atas bantuan yang dijanjikan. Mereka menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar janji saat bencana datang. (Red)


