-->
×

Gempa M7,7 Nagekeo Tewaskan 47 Orang, Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi

Sunday, August 16, 2026 | August 16, 2026 WIB | 2026-08-16T01:34:23Z

Tambora Media / AI

NTT, TM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), menimbulkan dampak besar. Sedikitnya 47 orang meninggal dunia, 101 warga mengalami luka-luka, dan lebih dari 5.000 jiwa terpaksa mengungsi.


Berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, jumlah pengungsi tersebar di sejumlah wilayah terdampak. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Sikka dengan 3.356 jiwa, terdiri dari 1.356 jiwa yang mengungsi di GOR Samador dan sekitar 2.000 jiwa yang mengungsi secara mandiri di 10 titik.


Sementara di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Sebanyak 500 warga lainnya dilaporkan mengungsi di Kabupaten Nagekeo. Pengungsi juga tercatat berada di wilayah Bima hingga Kepulauan Selayar.


47 Orang Meninggal, 101 Luka

Dahsyatnya guncangan gempa yang kemudian diikuti 341 kali aktivitas gempa susulan menyebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan dalam jumlah besar.


Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban meninggal terbanyak, yakni 23 jiwa, disusul Manggarai Timur sebanyak 17 jiwa.


Sementara korban meninggal lainnya tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa dan Nagekeo 1 jiwa.


Selain korban meninggal, sedikitnya 101 warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.


Ribuan Rumah dan Fasilitas Publik Rusak


Gempa juga menimbulkan kerusakan material yang cukup masif. Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang dan 317 rusak ringan.


Kerusakan turut melanda fasilitas publik. Sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan dan 38 kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan.


Kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar para penyintas menjadi salah satu fokus utama penanganan darurat.


Pengungsi Butuh Tenda hingga 30 Ton Beras


Di Kabupaten Manggarai, para pengungsi membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, tandon air bersih serta genset.


Pemenuhan kebutuhan dasar tersebut menjadi prioritas agar masyarakat yang berada di lokasi pengungsian dapat memperoleh perlindungan dan layanan yang memadai selama masa tanggap darurat.


Status Tanggap Darurat Mulai Ditetapkan


Pemerintah Provinsi NTT saat ini tengah memproses keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sebagai respons terhadap skala bencana.


Sejumlah pemerintah daerah terdampak juga telah menetapkan status kedaruratan masing-masing.


Kabupaten Manggarai menetapkan Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, terhitung 15 Agustus hingga 13 November 2026, melalui Keputusan Bupati Nomor 319 Tahun 2026. Pembentukan pos komando ditetapkan melalui Keputusan Bupati Nomor 320 Tahun 2026.


Kabupaten Ngada menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana sekaligus pembentukan Pos Komando selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026, melalui Keputusan Bupati Nomor 441 dan 442/KEP/HK/2026.


Sementara Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.


Rumah Sakit Lapangan Didirikan


Tim gabungan bersama BPBD masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak untuk pendataan dan verifikasi kerusakan maupun korban.


Untuk memperkuat pelayanan medis, Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.


Dari sisi akses, jalur darat Larantuka–Maumere dilaporkan telah kembali terhubung dan dapat dilalui. Namun, upaya membuka jalur alternatif masih dilakukan karena akses jalan penghubung Ende–Nagekeo masih terputus akibat dampak gempa.


Tim penanganan bencana hingga kini terus bergerak untuk memastikan keselamatan warga, memenuhi kebutuhan pengungsi serta mempercepat pendataan dan penanganan kerusakan di wilayah terdampak. (Red) 

×