![]() |
| Adi Kurniawan |
OPINI : Visi Indonesia Emas 2045 menjadi cita-cita besar bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, berdaya saing global, dan memiliki sumber daya manusia yang unggul saat memasuki usia satu abad kemerdekaan. Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah Indonesia benar-benar akan mencapai masa keemasan, atau justru terjebak dalam kondisi "Indonesia Cemas" akibat berbagai persoalan yang tak kunjung diselesaikan?
Optimisme tentu diperlukan. Namun optimisme tanpa langkah nyata hanya akan menjadi slogan. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh besarnya mimpi, melainkan oleh keberanian menyelesaikan persoalan yang dihadapi saat ini.
Salah satu tantangan terbesar adalah kualitas sumber daya manusia. Akses pendidikan memang semakin luas, tetapi kualitasnya masih belum merata. Kesenjangan pendidikan antara perkotaan dan daerah terpencil, rendahnya literasi, hingga keterampilan digital yang belum memadai menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Padahal, generasi muda saat ini adalah aktor utama yang akan menentukan wajah Indonesia pada tahun 2045.
Di sisi lain, bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang emas juga menyimpan ancaman. Jika jutaan penduduk usia produktif tidak memperoleh pekerjaan yang layak, bonus tersebut justru berubah menjadi beban. Pengangguran, kemiskinan, dan meningkatnya kesenjangan sosial berpotensi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi apabila penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah korupsi. Praktik korupsi masih menjadi penghambat utama pembangunan nasional. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sering kali bocor akibat penyalahgunaan wewenang. Dampaknya tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mengikis kepercayaan publik dan mengurangi daya tarik investasi.
Di bidang ekonomi, pertumbuhan yang tinggi belum sepenuhnya dinikmati secara merata. Ketimpangan antarwilayah dan kesenjangan pendapatan masih menjadi tantangan besar. Pembangunan harus mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya berpusat di kota-kota besar.
Tak kalah penting adalah isu lingkungan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran, hingga krisis air bersih merupakan ancaman nyata yang dapat menghambat pembangunan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan kelestarian lingkungan hanya akan meninggalkan beban bagi generasi mendatang.
Di era digital, Indonesia juga dihadapkan pada persaingan global yang semakin ketat. Teknologi dapat menjadi motor penggerak ekonomi apabila didukung oleh SDM yang kompeten dan inovatif. Namun tanpa kesiapan tersebut, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi negara lain.
Indonesia Emas 2045 bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan melalui pendidikan yang berkualitas, pemerintahan yang bersih, ekonomi yang inklusif, penegakan hukum yang adil, serta pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Karena itu, pilihan ada di tangan kita semua. Jika berbagai persoalan mendasar mampu diselesaikan mulai hari ini, Indonesia memiliki peluang besar menjadi bangsa yang maju dan disegani dunia. Namun apabila korupsi, pengangguran, ketimpangan sosial, rendahnya kualitas pendidikan, dan kerusakan lingkungan terus dibiarkan, maka cita-cita Indonesia Emas berisiko berubah menjadi Indonesia Cemas.
Masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh mimpi besar semata, tetapi oleh keberanian mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan hari ini. (Red)
Penulis : Adi Kurniawan "Presma Universitas Bima Internasional MFH"


