![]() |
| Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kota Bima untuk membahas polemik enam siswa SDN 19 yang tidak tercatat dalam data ujian |
Kota Bima, TM – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kota Bima untuk membahas polemik enam siswa SDN 19 yang tidak tercatat dalam data ujian terpaksa ditunda. Penundaan ini dipicu ketidakhadiran sejumlah pejabat penting yang telah diundang, sehingga memicu kekecewaan pimpinan dewan.
Ketua DPRD Kota Bima, Syamsurih, menegaskan bahwa ketidakhadiran para pihak terkait dalam forum resmi DPRD merupakan sikap yang tidak dapat dibenarkan. Ia memastikan pemanggilan ulang akan segera dilakukan guna mengusut tuntas persoalan tersebut.
“Hari ini juga kami sudah perintahkan Setwan untuk kembali mengundang pihak-pihak terkait. RDP akan dijadwalkan ulang pada Senin pekan depan, dan kami harapkan semua yang diundang bisa hadir,” tegasnya.
Menurutnya, dalam RDP lanjutan nanti, DPRD akan menggali secara mendalam duduk persoalan dengan meminta keterangan dari masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Hasil pembahasan tersebut nantinya akan dirumuskan oleh komisi terkait menjadi kesimpulan serta rekomendasi resmi untuk disampaikan kepada kepala daerah.
Adapun pihak yang diundang dalam RDP tersebut meliputi Sekretaris Daerah (Sekda), BKPSDM, Dinas Dikpora, Kepala SDN 19 beserta mantan kepala sekolah, Inspektorat, hingga para pengawas SD se-Kota Bima.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kota Bima, Yogi, mengungkapkan bahwa dari jadwal RDP yang dimulai pukul 10.00 WITA, hanya perwakilan Inspektorat dan Kepala SDN 19 yang hadir.
“Sekda, Dikbud, mantan kepala sekolah, pengawas, dan BKPSDM tidak hadir. Alasannya ada kegiatan di salah satu SD di Kelurahan Melayu. Kami kecewa, ini harus jadi catatan dan wajib hadir Senin nanti,” tegas politisi PAN tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan serius karena menyangkut hak pendidikan siswa. DPRD menegaskan komitmennya untuk memastikan persoalan tersebut ditangani secara transparan dan tuntas agar tidak merugikan masa depan para siswa. (Red)


